Khedira Sebut Trofi Liga Champions Obat untuk Buffon

Sami Khedira tidak bisa menahan kesedihan menyaksikan Gianluigi Buffon menangis setelah Italia tidak berhasil melangkah ke Piala Dunia 2018. Ia berjanji akan menolong Buffon untuk menangkan Liga Champions.

Italia tidak berhasil merebut tiket ke babak Piala Dunia 2018 di Rusia usai tunduk dengan agregat 0-1 dari Swedia di babak play-off. Buffon juga terlihat menangis ketika keluar dari lapangan dan saat di wawancarai oleh salah satu media.

Video Buffon yang menangis ketika sesi wawancara tersebut juga tersebar luas. Khedira yang juga melihat tangisan teman 1 timnya di Juventus itu merasa ikut sedih.

Untuk obati luka Buffon, Khedira berjanji untuk menolong menangkan trofi Liga Champions, yang selama ini masih belum pernah dimenangkan oleh Buffon. Sebelumnya, sang penjaga gawang 3 kali tidak berhasil di final bersama Juventus, sementara Khedira 1 kali sudah menangkannya saat bermain bersama Real Madrid.

“Saya tak dapat bilang kalau saya merasa senang. Menyaksikan Buffon menangis itu sungguh membuat semua orang, Italia, dan non-Italia. Buffon merupakan seorang olahragawan yang luar biasa, seorang legenda hidup,” imbuh Khedira.

“Saat ini saya ikut merasa sedih untuk para rekan 1 tim saya di Juventus dan semua penjuru Italia: semuanya telah berubah supaya jadi lebih oke lagi, banyak klub berinvestasi dan memainkan sepakbola yang apik, namun hasil ini adalah sebuah bencana.”

“Mereka telah katakan kalau mereka bakal secepatnya bangkit dan saya percaya kalau mereka bakal lakukan itu. Saya mengirim pesan pada Buffon, namun saat ini yang diperlukan ialah beberapa incaran dibanding hanya sebuah kata-kata. Ia hanya kurang 1 trofi (Liga Champions), maka kami bakal menolong dirinya untuk menangkannya,” kata Khedira.

Gagalnya Italia ke Piala Dunia pun ikut tandai berakhirnya karier Buffon di pertandingan internasional.

Szczesny Dipercaya Bisa Gantikan Buffon

Wojciech Szczesny dianggap cukup oke untuk jadi pengganti Gianluigi Buffon sebagai penjaga gawang nomor satu di Juventus. Namun, Penjaga gawang yang berasal dari Polandia tersebut diminta untuk berusaha dengan keras sebelum Buffon gantung sepatu.

Juventus datangkan Szczesny dari Arsenal pada bursa transfer musim panas kemarin. Untuk musim ini, Szczesny menjadi penjaga gawang kedua dan menjadi pelapis untuk Buffon.

Misi itu bakal dijalani Szczesny sampai Buffon gantung sepatu pada tahun berikutnya. kemudian, ia diprediksi bakal jadi kiper inti Juventus gantikan posisi Buffon.

Gantikan penjaga gawang legendaris seperti Buffon tentunya bukan misi yang mudah. Namun, Szczesny dianggap cukup layak bisa berada di posisi yang nantinya ditinggalkan oleh Buffon.

“Juventus sudah datangkan seorang pemain oke dan mereka tak akan menjual Neto kalau mereka tak berpikir seperti itu,” ucap bekas penjaga gawang Juventus.

“Ia berpeluang bermain dengan oke untuk klub. Tentang angka Benevento yang masuk ke gawangnya, itu karena pagar betis yang tidak berfungsi dengan baik dan seperti itulah mereka ciptakan angka. Namun, kesalahan tersebut tak menghapus semua penampilan bagus yang telah ia perlihatkan, di mana ia tunjukkan dirinya aman dan efektif,” kata Rubinho, yang jadi penjaga gawang ketiga Juve pada tahun 2012-2016.

Szczesny sebelumnya raih pengalaman tampil di Serie A saat bermain bersama AS Roma sebagai pemain pinjaman sepanjang 2 musim. Ketika bermain bersama Giallorossi itulah, ia memperlihatkan dirinya sebagai salah satu penjaga gawang yang amat konsisten di Serie A.

“Tidak mudah untuk Gigi bikin dia menjadi lebih oke. Lebih mudah untuk Szczesny untuk benahi dirinya sendiri. Ia miliki pelatih penjaga gawang yang amat oke, klub yang nerkonsentrasi padanya, dan sebuah organisasi luar biasa di belakangnya,” ucap Rubinho.

“Saat ini ia perlu berikan semuanya dalam latihan dan dalam laga, hal tersebutlah satu-satunya cara supaya ia berkembang. Saya ingin ia dapat jadi pengganti Buffon,” imbuh dia.

Szczesny sampai saat ini sudah bermain 4 kali di Serie A bersama Juventus. Penjaga gawang yang berusia 27 tahun itu ciptakan 2 clean sheet dan kebobolan 2 kali.

Gianluigi Buffon Optimis Jika Italia akan Berjaya di Piala Dunia 2018

Kiper terbaik dunia yang juga merupakan kapten dari timnas Italia yakni Gianluigi Buffon mengungkapkan penilaiannya pada performa timnasnya di kompetisi Piala Dunia 2018. Dia tetap percaya diri dengan kinerja Gli Azzurri yang akan melaju ke babak selanjutnya kompetisi sepakbola dunia ini, walau baru saja digagalkan oleh timnas Spanyol.

Ya, timnas Italia baru saja kalah dan sepertinya sulit untuk lolos lagi menuju Rusia di Piala Dunia 2018 mendatang. Hal ini dikarenakan mereka gagal menang dari timnas Spanyol dengan skor akhir 0-3, pada laga di hari Minggu (3/9/2017) dini hari WIB tadi. Ketiga gol dari tim lawan dilakukan oleh Isco dan Alvaro Morata.

Kegagalan tersebut menjadikan Italia kini bertengger di peringkat kedua klasemen Grup G pada babak Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa. Mereka kini selisih tiga poin dari Spanyol dengan tiga laga yang sudah tersisa.

Jika berada di peringkat kedua hingga usainya babak Kualifikasi kompetisi sepakbola dunia ini, timnas Italia wajib melaksanakan laga playoff. Tiga lawan yang masih harus mereka lawan adalan timnas Israel, Makedonia dan timnas dari Albania.

Walau harus melaksanakan laga yang sulit dan cukup menyita perhatian, Gianluigi Buffon selaku kapten timnas ini cukup optimis jika Italia akan melaju dengan baik menuju Rusia di tahun yang akan datang.

” Kami dengan ini menyakini dan berharap dapat melaju ke babak Piala Dunia 2018 mendatang. Terdapat satu tahun di hadapan kami, masih akan melakukan banyak pelatihan dan perbaikan dalam timnas ini. Akan terdapat hal yang mengejutkan nantinya, ” tutup kiper terbaik dunia dari Juventus ini.

Piala Dunia 2018 : Italia Miliki Pemain Mematikan, Spanyol Wajib Fokus

Timnas Spanyol harus maksimal saat mereka berhadapan dengan timnas Italia dalam laga esok hari. Pasalnya, Gli Azzurri memiliki dua pemain yang mematikan yang pastinya akan membuat mereka dalam kesulitan.

Timnas Spanyol dan timnas Italia akan berhadapan dalam laga di babak Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa, pada Minggu (3/9/2017) dinihari WIB yang dilaksanakan di Santiago Bernabeu. Ini merupakan laga penentuan siapa timnas yang akan melaju ke babak juara grup. Kedua tim kini ada di posisi atas klasemen dengan 16 poin, namun Spanyol lebih banyak dalam perolehan gol dari Italia.

Walau lebih dijagokan karena bermain di markas, Spanyol tidak dapat melihat Italia sebelah mata karena bersama sang pelatih, Giampiero Ventura, mereka bermain dengan penuh keyakinan. Terdapat banyak pemain muda dalam skuat Gli Azzurri yang ditopang pemain senior, layaknya Gianluigi Buffon sang kiper dunia.

” Gianluigi Buffon merupakan pemain yang hebat. Casillas juga begitu, mereka adalah kiper yang tak pernah bermain buruk. Walau mereka kini dalam usia yang tak muda lagi, tetap saja sulit dikalahkan. Buffon memiliki kinerja yang baik selama 2 tahun ini, ” papar pemain Spanyol, Alvaro Morata.

Tidak hanya Gianluigi Buffon, Alvaro Morata juga menyorti lini pertahanan timnas Italia yang dijaga oleh Giorgio Chiellini. Baik Buffon dan Chiellini pernah menjadi rekan tim Morata di Juventus.

” Melawan mereka, layaknya ada dalam kandang gorila dan Anda sedang mencuri makanannya. Saya selalu ingin melawannya beberapa kali di wilayah penalti. Sulit melawan Giorgio Chiellini dalam duel individu, ” paparnya lagi.

Alvaro Morata sendiri sudah mencatatkan dua gol dan dua assist dari empat laga di Chelsea, dia dipastikan akan menjadi pemain pilihan timnas Spanyol di lini depan dalam Kualifikasi Piala Dunia 2018 besok.

 

Jadi Kiper Tangguh, Donnarumma Terinspirasi Dua Kiper Terbaik Dunia ini

Gianluigi Donnarumma mengatakan jika menjadi kiper AC Milan di tiap laga itu sangat berat. Akan tetapi, dua kiper terbaik dunia ini menjadikannya sosok yang kuat dan tak kenal rasa takut lagi.

Kiper AC Milan berumur 18 tahun ini sadar bahwa sebagai kiper merupakan tugas yang sulit. Tidak hanya bermain untuk timnya, namun dirinya juga menjadi kiper untuk timnasnya.

” Satu hal yang paling saya senang dalam peran saya ini yakni belajar tanggung jawab. Itulah yang menjadikan saya bangga bermain dengan rekan satu tim dan penggemar. Merupakan kiper termuda di Italia dan juga kiper di tiap laga adalah tanggung jawab, karena saat tugas ini salah, maka akan ada gol lawan, ” tutur Gianluigi Donnarumma.

Lebih lanjut, dia mengatakan jika itu bukanlah posisi untuk pemain yang tidak bermental kuat dan emosional. Beban tugas ini sangat sulit di tiap laganya, penuh dengan tantangan. Namun, dirinya senang dengan apa yang dia kerjakan kini.

Donnarumma sendiri bangga mendapat pengajaran langsung dari kiper terbaik dunia yang juga idolanya sejak kecil, yakni Gianluigi Buffon. Selain itu, dirinya juga belajar dari kiper lainnya, Manuel Neuer.

” Gianluigi Buffon merupakan sosok yang begitu baik dan menjadi panutan sejak saya kecil. Dia begitu menolong Timnas Italia, mengajari saya dan melatih saya. Dia terasa spesial sebagai pelatih ataupun secara individu. Saya juga belajar banyak dari Manuel Neuer yang juga menjadi inspirasi saya sebagai kiper AC Milan dan timnas. Keduanya menjadi kiper terbaik dunia yang tak akan pernah saya lupakan, ” ucap Gianluigi Donnarumma.

Kisah Cinta Gianluigi Buffon, Dari Perselingkuhan Hingga Penggangu Tetangga

Pada tahun 2014 yang lalu, Gianluigi Buffon secara mengejutkan mengungkapkan perceraiannya bersama sang istri yang sudah dia nikahi selama tiga tahun, yakni Alena Seredova. Keduanya berpisah disebut-sebut karena perselingkuhan yang dilakukan kiper Juventus ini. Dan benar saja, jika pesepakbola dunia ini langsung memiliki pasangan setelah resmi berpisah.

Kiper Juventus dan andalan timnas Italia itu kini bersama presenter seksi, Ilaria D’Amico. Hubungan D’Amico dan Gianluigi Buffon sebenarnya sudah terdengar sejak tahun 2013 lalu. Tapi, keduanya baru go publik sejak kiper ini bercerai dengan Alena Seredova.

” Saya merasakan waktu yang sulit dan saya juga diliputi rasa bersalah. Namun, seiring berjalannya waktu, saya dan dia merasaa bahagia dan kini sama-sama bahagia, ” papar Ilaria. Sama halnya dengan sang pasangan, Ilaria juga sudah mempunyai buah hari, hasil pernikahannya bersama pengusaha Italia, yakni Rocco Attisani.

Walau bekerja sebagai jurnalis, D’Amico ternyata bukanlah lulusan jurnalisme. Ia menyelesaikan bidang hukum di University of Rome La Sapienza. Wanita dengan khas rambut hitamnya ini menjadi jurnalis sejak menjadi pembawa acara program olahraga di tahun 1997 silam.

Kariernya semakin populer sejak menjadi pembawa acara perhelatan Piala Dunia 1998. Kala ini, Ilaria menjadi salah satu presenter dengan reputasi terbaik di Italia. Karena itu juga, Ilaria dekat dengan Buffon sekaligus menjalani hubungan jarak jauh. Pasalnya, sang kekasih yang tinggal di Kota Torino, dan Ilaria ada di Kota Milano.

Kisah cinta keduanya memang menarik untuk disimak. Sosok kiper 39 tahun ini mempunyai andil kuat membawa timnya masuk ke babak final Liga Champions musim ini ternyata tidak hanya jago menggocek bola di lapangan, namun juga di ranjang.

Resmi berpisah dengan Miss Ceko, Alena Seredova, Gianluigi Buffon memang tampang harmonis dengan Illaria D’Amico. Walau sempat menuai kontroversi karena perselingkuhan, keduanya kini sudah tidak malu lagi untuk memperlihatkan keromantisan berdua. Bahkan, sampai mengganggu tetangga mereka dengan kegiatan keduanya saat bertemu. Pasangan itu disebut-sebut terlalu berisik ketika bercinta. Anehnya, baik Buffon dan D’Amico selalu tak kenal waktu dalam kegiatan ini.

Sementara itu, awal Januari 2016 lalu, keduanya memiliki anak laki-laki yang bernama Leopoldo Mattia.

Peluang Tipis Juventus Untuk Terus Dapatkan Servis Buffon

Juventus, Gianluigi Buffon, Liga Italia
Juventus, Gianluigi Buffon, Liga Italia
Gianluigi Buffon

Pemain legenda Juventus, Gianluigi Buffon. Kiper Juventus dan Timnas Italia itu membuka scenario memperpanjang karirnya. Yang dikabarnya sebelumnya akan segera pensiun musim ini. Akan tetapi, dia bisa terus bermain asalakan timnya berjasil memenangkan Liga Champions.

Keputusan tersebut diambil Buffon karena dengan begitu, pemain tersebut berambisi untuk menjuarai berbagai trofi lain bersama Juventus. Namun, sang pelatih Massimiliano Allegri sedikit pesimis dengan keputusan yang diambil oleh Buffon. Pasalnya, untuk memenangkan Liga Champions tak bisa diketahui juga belum bertanding.

“Dipastikan saya akan segera mengakhiri karir saya sebagai kiper dan saya akan pesiun setelah Piala Dunia 2018,” tegas Gianluigi Buffon seperti dikutip Sky Sport Italia.

“Jika tim ini bisa memenangkan Liga Champions, maka saya akan terus berusaha melanjutkan karir saya bersama Juventus. Ambisi saya ingin meraih berbagai title seperti Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antar Klub.”

La Vecchia Signora telah ditaklukan oleh Real Madrid pada pertandingan Final Liga Champions 2016/2017 lalu di Millenium Stadion, Cardiff. Legenda Juventus itu merasakan kegagalan pada percobaan ketiganya di Liga Champions. Mantan pemain Parma juga telah gagal pada meraih trofi pada musim 2002/2003 dan 2014/215.

Buffon menyadari usianya bukan usia pemain yang mampu bermain secara optimal, kini usianya sudah beranjak 41 tahun. Jika bermain hingga 2018/2019, Buffon khawatir Ia tampil kurang maksimal namun Buffon masih memiliki peforma yang sangat baik dan berani bersaing dengan kiper yang jauh lebih muda dari pada dirinya

“Usia saya memang sudah tak lagi muda, akan tetapi saya siap melawan kiper yang jauh lebih muda dari pada usia saya sekarang. Justru saat memiliki tantangan tersebut, saya semakin termotivasi untuk tetap bermain optimal agar selalu menjadi pemain pilihan utama,” Ungkap Buffon.

Bersama dengan Juventus, pemain legenda Gianluigi Buffon sudah delapan kali menduduki takhta Serie A dan membawa Timnas Italia memenangkan Piala Dunia 2006. Akan tetapi, hingga kini harapan Buffon untuk meraih juara antar klub Eropa masih belum tercapai.

Kans Terakhir untuk Buffon Menangkan Liga Champions

Keinginan besar yang dimiliki oleh Gianluigi Buffon untuk bisa menangkan trofi pada ajang Liga Champions kembali buyar pada musim ini. Musim berikutnya disebut olehnya dapat jadi peluang terakhir untuk berusaha.

Buffon lagi-lagi perlu menahan harapannya untuk membawa trofi Liga Champions setelah laga yang dijalani Juventus saat berhadapan dengan Real Madrid mendapat hasil buruk dengan skor 1-4 pada babak final yang berlangsung pada hari Minggu (4/6/2017) dinihari WIB di Millennium Stadium. Ini merupakan yang ke 3 kalinya penjaga gawang yang berusia 39 tahun tersebut tidak berhasil pada pertandingan puncak bersama Juventus usai sebelumnya gagal pada musim 2002/2003 dan 2014/2015.

Dengan umurnya yang saat ini, Buffon akui kesempatan yang ia miliki bakal jadi makin kecil. Praktis cuma ada 1 musim lagi karena kontraknya bersama Juve cuma berjalan hingga musim berikutnya atau pada tahun 2018.

Buffon pribadi sebelumnya pernah katakan rancangan yang ia pilih untuk gantung sepatu usai ajang Piala Dunia 2018 di Rusia.

“Saya masih miliki 1 tahun lagi pada kontrak yang saya miliki bersama Juve. Maka hal tersebut artinya saya miliki sebuah peluang lagi untuk menangkan ajang Liga Champions,” ucap Buffon.

“Namun harus diakui, bakal jadi hal yang amat berat untuk bermain makin oke dari musim ini. Sebab kami mungkin saja bikin sesuatu yang amat hebat. Disayangkan kami tak sukses melakukannya,” kata dia.

Pada musim ini Juve telah lebih awal raih Scudetto dan titel juara Coppa Italia. Liga Champions mestinya bakal jadi penyempurna pencapaiannya pada musim ini, di mana Bianconeri bakal pilih musim dengan treble perdana sepanjang sejarah mereka.

Buffon Sebut Real Madrid Berpengalaman Namun Takkan Berpengaruh

Real Madrid tidak diragukan bakal miliki pengalaman yang banyak di babak final Liga Champions. Namun hal tersebut dikatakan Juventus tidak akan menjadi pengaruh banyak pada permainan mereka saat berada di lapangan.

Juventus bakal berhadapan dengan Real Madrid di babak final Liga Champions yang akan berlangsung pada hari Minggu (4/6/2017) dinihari WIB di Millennium Stadium. Bianconeri tengah bertujuan untuk memuaskan hasrat kerinduan akan trofi dengan terakhir kali berhasil menjadi juara pada tahun 1996 lalu.

Sedari waktu itu 4 babak final dilewati Juventus, namun terus gagal. Babak final pada tahun ini sendiri adalah yang ke-9 kali sepanjang sejarah ikutnya Juventus mengambil bagian di ajang Liga Champions termasuk pada format lama, menangkan 2 di antaranya.

Namun tujuan Juventus memuaskan hasrat kerinduan tersebut tentu tidak akan mudah. Lawannya ialah Real Madrid, yang notabene peraih titel paling banyak dengan 11 kali menjadi juara dan 14 kali sudah memasuki babak final. Cuma 3 kali Los Blancos tunduk pada babak final turnamen ini.

Pengalaman tersebutlah yang dianggap jadi nilai tambahan bagi Real Madrid, ditambah masih belum lama juga mereka keluar sebagai juara yaitu pada tahun 2014 dan 2016 kemarin.

Gianluigi Buffon akui pengalaman tersebut dapat bikin Real Madrid sedikit lebih tenang menjalani laga. Namun di atas lapangan, ia yakin kalau keseimbangan pertandingan tidak bakal terjadi banyak pengaruh.

“Ini bukanlah seperti sejarah Real Madrid di babak final tersebut adalah perkembangan yang baru. Mereka telah alami banyak keberhasilan dan miliki rasa percaya diri yang besar di sejumlah keadaan ini, dan hal tersebut dapat bikin pertandingan jadi makin mudah untuk mereka dilihat dari mental,” imbuh Buffon.

“Namun hal tersebut tak akan merubah keseimbangan jalannya laga,” kata dia.

Juventus pribadi dikatakan menatap laga krusial ini dengan mentalitas yang telah pas. Ada antusias besar untuk bikin sejarah di klub, catatkan treble untuk pertama kali.

“Ada beberapa rasa tegang yang tepat, kadar fokus yang oke, dan hasrat menggebu untuk berbuat sesuatu yang bersejarah,” lanjut Buffon.

“Saya merasa lebih oke untuk memikirkan pertandingan besok menjadi sebuah ujian penting di mana masing-masing dari kami perlu berikan yang paling oke,” kata dia.

“Buffon Pantas Raih Gelar The Best Player In The World 2017”

Penampilan Gianluigi Buffon, selaku penjaga gawang Juventus, yang sekarang ini tengah berumur 39 tahun tersebut malah kian terlihat cemerlang.

Saking luar biasanya, bek Giorgio Chiellini mengunggulkan penjaga gawang timnas Italia tersebut pantas memperoleh title pesepak bola Terbaik Dunia atau Ballon d’Or.

Buffon sebagai salah 1 sosok super hero atas kesuksesan Juventus melaju sampai fase final Liga Champions untuk ke-2 kalinya selama 3 tahun terakhir.

Pada babak kualifikasi musim ini, jaring yang dikawal pemilik 167 penghargaan bersama Italia tersebut cuma kecolongan gol 1 kali.

Penampilan luar biasa itupun menjadikan Chiellini tidak ragu dalam memberikan sanjungannya bahwanya Buffon pantas meraih title the best player in the world 2017, tidak dengan apa yang sudah diraih sang pesepak bola selama dirinya berkarier.

“Saya tak sependapat dengan ucapan orang yang mengatakan Buffon mesti menjuarai Ballon d’Or atas apa yang sudah didinya dapatkan. Buffon layak memperolehnya atas performanya untuk sekarang ini,” ucap Chiellini seperti yang dikabarkan lewat salah satu media.

“Saya amat beruntung dapat tampil di hadapannya nyaris di selama saya berkarier. Saya pun tak dapat membayangkan bila suatu hari nanti tak dirinya lagi di belakang saya dalam melakukan sebuah aksi penyelamatan rumit dengan gampang,” ungkap Chiellini.

Sedari awal tahun 2001/2002 Buffon merapat dengan Juve dengan predikat selaku penjaga gawang paling mahal di dunia. Dirinya direkrut dari AC Parma dengan biaya sebesar 33.000.000 pound sterling atau setara dengan 599 milyar rupiah.

Selama perkuat skuat Juve, Buffon sudah bermain pada 621 pertandingan. Dirinya juga membawa skuat yang mendapat sebutan ‘Si Nyonya Besar’ ini mendapat 8 title Serie A, 5 Super Coppa Italia dan 3 Coppa Italia.

Sekarang, Buffon kembali mempunyai kans peluang dalam membawa Juventus mendapatkan title Liga Champions pada pertandingan final kontra Real Madrid yang dilangsungkan pada hari Sabtu, tanggal 3 Juni 201 bertempat di Stadion Millenium Cardiff.