Advertisement
Liga Inggris

Situasi Leicester Semakin Suram

leicester city

Leicester City nampak belum ingin berhenti mencatatkan rekor-rekor negatif musim 2016-2017 ini usai menderita kekalahan dua gol tanpa balas dari tuan rumah Swansea City.

Rasanya belum terlalu lama publik menyaksikan Leicester pesta pora setelah menjuarai kompetisi Premier League musim lalu dengan melewati tim-tim besar serta jadi klub paling tajam ketiga usai Manchester City (71 gol) dan Tottenham Hotspur (69 gol).

Akan tetapi saat tahun 2017 baru memasuki Februari atau setengah lebih musim 2016/2017 berlangsung, semuanya berbeda 180 derajat untuk The Foxes.

Bukan untuk bersaing di zon atas mempertahankan titel juaranya, Leicester justru sibuk menyelamatkan diri dari jeratan degradasi sejak musim dimulai. Bahkan saat ini situasinya semakin kelam bagi Si Rubah.

Hal itu sesudah kekalahan 0-2 dari Swansea City dalam pekan 25 Premier League di Liberty Stadium, Minggu (12/2/2017) malam WIB kemarin. Itu menjadi kekalahan ke-14 Leicester musim ini sekaligus membenamkan mereka ke peringkat 17 klasemen dengan 21 angka, terpaut satu poin dari Hull City di peringkat ke-18 yang notabene merupakan batas akhir zona degradasi.

Kekalahan dari The Swans merupakan kekalahan kelima berturu-turut Jamie Vardy dan kawan-kawan yang membuat menjadikan mereka adalah jawara bertahan Premier League pertama yang melakukannya.

Ada lagi torehan minor yang dicetak Leicester yaitu juara bertahan pertama yang tidak bisa mencetak gol di enam pertandingan secara berturut-turut. Kali terakhir tim besutan Claudio Ranieri bikin gol ialah ketika menang 1-0 atas West Ham United di partai penutupan 2016.

Semakin menambah derita Leicester ialah mereka menjadi tim dengan jumlah angka paling rendah di empat divisi sepakbola Inggris di tahun 2017 ini. Cuma satu angka mereka dapat, seperti dengan pencapaian Aston Villa, Coventry, dan Leyton Orient.

Bila kondisi ini tak segera dibenahi, bukan tak mungkin Leicester akan jadi juara bertahan yang degradasi semusim berukitnya.