Lima Pemain Paling Setia Di Klubnya

paolo maldini

paolo maldiniBerpindah klub adalah hal yang umum bagi seorang pesepakbola jaman modern. Namun bagaimana jika bicara tentang kesetiaan?

Belakangan ini loyalitas adalah hal yang sulit didapat. Uang merupakan faktor terpenting di tengah-tengah melonjaknya banderol pemain. Namun uan sepertinya bisa kalah oleh kesetiaan sang pemain tehradap klub. Di tanah air, Choirul ada sosok Choirul Huda yang mempersemabhkan seluruh kariernya di Persela Lamongan.

Lalu bagaimana di ajang Eropa? Inilah daftar lima pemain yang menuntaskan kariernya di satu klub saja.

1. Carles Puyol

Carles Puyol menuntaskan seluruh karier sepakbolanya bersama Barcelona. Tetapi anehya, dia tidak ada dalam tiga nama top dengan jumlah penampilan terbanyak bersama raksasa Katalan. Ketika memutuskan untuk pensiun, status legenda sudah disandangnya. Total dia memberikan 20 gelar bersama Barca.

2. Paolo Maldini

Bisa melihat penampilan Paolo Maldini merupakan satu perjalanan tersendiri. Defender legendaris Italia itu punya bakat luar biasa dan serba bisa. Karena kecerdasan yang dia miliki iacuup jarang melakukan pelanggaran. Ia menorekan 902 penampilan bersama Il Diavolo Rosso dan membuat 33 gol yang menghasilkan 23 gelar juara.

3. Paul Scholes

Eks gelandang Manchester United ni kondang dengan kemampuan umpan-umpan akurat. Ia dinilai sebagai salah seorang gelandang modern di sepak bola Inggris. Bahkan fans The Red Devils menyandingkan namanya dengan pemain seperti Xavi dan Andrea Pirlo. Faktanya dia memang gelandang MU paling top di era modern.

4. Francesco Totti

Dengan nama besar yang dimiliki dia adalah sosok pemain yang sangat. Ia dinilai sosok istimewa berkat loyalitasnya. Padahal di Serigala Ibukota Totti cuma bisa memberikan lima trofi saja. Akan tetapi sekali lagi kecintaan dan rasa hormat yang dia dapatkan ini tak terbatas angka.

5. Lionel Messi

Dan terakhir Lionel Messi. Walau dia belum mengakhiri kariernya, namun dengan kontrak yang ada saat ini hingga tahun 2021, ia diyakini akan menghabiskan kariernya di sana. Di usianya yang ke-30 tahun, La Pulga adalah pengumpul penampilan terbanyak ketiga di belakang Xavi dan Andres Iniesta. Hingga kini sudah 29 gelar ia sumbangkan.

Manajer-manajer Terhebat Yang Pernah Dimiliki Liverpool

kenny dalglishLiverpool merupakan salah satu klub terbesar di Inggris. Klub yang identik dengan warna merah ini merupakan klub dengan perolehan trofi terbanyak kedua setelah Manchester United. Liverpool berada di punjak kejayaan saat ditangani oleh manajer Bill Shankly. Pelatih ini kemudian dinobatkan sebagai salah satu legenda Liverpool.

Bill Shankly sangat dihormati atas keberhasilannya mengantarkan Liverpool kembali ke divisi satu setelah sebelumnya berada di divisi dua selama 8 musim. Untuk menghormati jasanya, dibuatlah patung Bill Shankly di pintu masuk Anfield.

Pemain-pemain yang paling dikenal di masa kepemimpinan Bill Shankly antara lain adalah Ray Clemence, Mark Lawrenson, Graeme Souness, Ian Callaghan, Phil Neal, Kevin Keegan, Alan Hansen, Kenny Dalglish (102 penampilan), dan Ian Rush (346 gol).

Bill Shankly
Bill Shankly
Setelah merebut juara Piala FA yang pertama pada tahun 1965 dan Liga Inggris pada musim 1965/1966, Bill Shankly berhasil mempersembahkan gelar juara liga dan Piala UEFA pada musim kompetisi 1972/1973. Musim berikutnya Bill Shankly sukses mengantarkan The Reds menjuarai Piala FA setelah membantai Newcastle United 3-0. Tidak ada yang menyangka bahwa gelar Piala FA itu merupakan persembahan terakhir dari seorang Bill Shankly. Karena setelah Bill Shankly memutuskan pensiun secara tiba-tiba.

Pemain dan para suporter Liverpool berusaha untuk membujuknya untuk tetap tinggal, bahkan para pekerja di Liverpool mengancam akan melakukan mogok kerja. Tetapi Bill Shankly tetap tidak bergeming dan menyerahkan kursi kepelatihan kepada asisten-nya, Bob Paisley. Bill Shankly akhirnya resmi pensiun pada tahun 1974.

Bob Paisley
Bob Paisley
Kesuksesan Liverpool bersama Bill Shankly berhasil diteruskan oleh Bob Paisley yang kala itu berusia 55 tahun. Dia menjabat sebagai manajer Liverpool dari tahun 1974 hingga 1983. Bob Paisley hanya absen gelar hanya di musim pertamanya menangani The Reds.

Selama 9 tahun Bob Paisley menangani Liverpool, dia mempersembahkan 21 trofi di seluruh ajang kompetitif,  termasuk 3 Piala Champions, 1 Piala UEFA, 6 juara Liga Inggris dan 3 Piala Liga secara berturut-turut.

Dengan semua gelar tersebut, wajar saja jika Bob Paisley dinobatkan sebagai salah satu manajer tersukses di Liga Inggris. Bukan hanya gelar yang dipersembahkan Bob Paisley untuk Liverpool, namun pria asal Inggris ini juga berhasil dalam melakukan regenerasi di tubuh Liverpool.

Joe Fagan
Joe Fagan
Bob Paisley resmi meninggalkan jabatan sebagai manajer Liverpool pada tahun 1983 dan digantikan oleh sang asisten, Joe Fagan. Di musim debutnya di Anfield, Joe Fagan langsung mempersembahkan treble untuk Liverpool yaitu juara Liga Inggris, juara Piala Liga dan juara Piala Champions. Prestasi ini membuat Liverpool berstatus sebagai klub Inggris pertama yang berhasil meraih 3 gelar juara sekaligus dalam 1 musim kompetisi.

Sayangnya, kejayaan era Joe Fagan harus ternoda oleh insiden di Stadion Heysel. Insiden yang terjadi sebelum laga final Piala Champion antara Liverpool melawan Juventus ini memakan korban jiwa sebanyak 39 orang yang sebagian besar merupakan pendukung Juventus.

Insiden ini menyebabkan seluruh klub Inggris tidak diperbolehkan tampil di kompetisi Eropa selama 5 tahun. Dan Liverpool tidak diperbolehkan tampil di seluruh kompetisi Eropa selama 10 tahun namun akhirnya hanya berlangsung selama 6 tahun. Selain itu, 14 fans Liverpool menjadi terdakwa atas peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Heysel.

Setelah peristiwa mengerikan itu, Joe Fagan memutuskan untuk pensiun dan memberikan tongkat manajerial selanjutnya kepada Kenny Dalglish[17] yang ditunjuk sebagai manajer-pemain. Joe Fagan menyerahkan tugas manajerial Liverpool FC kepada Kenny Dalglish yang pada saat itu sudah menjadi pemain hebat tetapi masih harus membuktikan kapabilitas sebagai seorang manajer.

Kenny Dalglish
Kenny Dalglish
Di era Kenny Dalglish, Liverpool berhasil memenangkan 3 trofi Premier League dan 2 trofi Piala FA, termasuk double winners (Liga Inggris dan juara Piala FA) pada musim kompetisi 1985/1986. Seandainya tidak sedang menjalani sanksi dari UEFA, bisa dipastikan Liverpool menjadi penantang serius untuk merebut Piala Champion pada saat itu.

Kesuksesan Liverpool FC di masa kepemimpinan Kenny Dalglish juga ikut ternoda karena adanya insiden Hillsborough. Di laga semi-final Piala FA melawan Nottingham Forest pada tanggal 15 April 1989, ratusan penonton dari luar stadion memaksa masuk ke dalam stadion yang mengakibatkan para suporter Liverpool yang berada di tribun terjepit pagar pembatas stadion.

Insiden ini mengakibatkan 94 suporter Liverpool tewas di tempat kejadian, 1 suporter Liverpool meninggal dunia 4 hari pasca kejadian setelah dirawat di rumah sakit, serta 1 orang suporter Liverpool lainnya meninggal dunia setelah koma selama 4 tahun.

Setelah insiden ini, Kenny Dalglish mengaku selalu trauma dengan kejadian ini. Buntut dari hal itu adalah, pada tanggal 22 Februari 1990 dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari kursi manajer Liverpool.

Pengumuman itu dirasa sangat mengejutkan karena saat itu The Reds sedang bersaing ketat dengan Arsenal dalam perebutan gelar Liga Inggris. Kenny Dalglish lalu dinobatkan sebagai salah satu legenda terhebat Liverpool karena sangat keberhasilannya sebagai pemain sekaligus manajer.

Gol Indah Dari Si Jenius Dennis Bergkamp

dennis bergkamp

dennis bergkampPada 2 Maret 2002 (15 tahun lalu) di Stadion Saint James’ Park, tercipta sebuah gol indah dari kaki penyerang Arsenal kala itu, Dennis Bergkamp. Gol itu juga dianggap sebagai salah satu lesakan terbaik yang pernah dibuat oleh seorang pemain Arsenal.

Banyak cerita ketika kita membicarakan soal gol terbaik yang pernah hadir di Premier League. Walaupun sudah tidak terhitung lagi berapa banyak gol indah yang pernah terjadi, ada beberapa di antaranya yang masih menjadi buah bibir hingga saat ini.

Salah satu yang bisa diingat adalah gol indah dari Dennis Bergkamp pada menit ke-11 ke gawang Newcastle United pada pekan ke-28 Premier League 2001/2002. Gol itu juga menjadi pembuka kemenangan 2 – 0 The Gunners pada laga tersebut.

Kala itu, Bergkamp menerima umpan biasa dari Robert Pires. Namun, umpan yang sebenarnya bisa diantisipasi oleh pemain bertahan Newcastle United itu berhasil dimaksimalkan menjadi sebuah gol oleh pemain asal Belanda itu hanya dengan dua sentuhan.

Berada di belakang bek Newcastle, Nikos Dabizas, Dennis Bergkamp mengeluarkan teknik tingkat tingginya dengan sedikit sentuhan dengan kaki kirinya untuk membuat bola berjalan di sisi kanan lawan. Bergkamp memainkan bolanya itu sambil memutar badan dan akhirnya berhasil membobol gawang The Magpies. Satu gol The Gunners lainnya dalam pertandingan tersebut dicetak oleh Sol Campbell pada menit ke-41.

“Sembilan meter sebelum bola datang, saya tiba-tiba punya ide untuk memutar badan melewati bek lawan. Saya pikir bola operan Pires agak berada di belakang saya, jadi saya harus berputar untuk bisa tetap menguasai bola,” kata Dennis Bergkamp.

“Setelah itu, saya hanya berusaha mengarahkan bola ke sudut yang tidak terjangkau oleh kiper. Bagi saya, gol tersebut merupakan salah satu yang paling penting sepanjang karier saya,” tutur Dennis Bergkamp.

Gol Dennis Bergkamp ini langsung mendapatkan hujan pujian. Banyak media-media yang menyebut jika gol ini hanya bisa diciptakan oleh sosok jenius seperti Dennis Bergkamp.

Bukti bahwa momen tersebut akan selalu diingat, khususnya oleh pendukung Arsenal, adalah terpilihnya gol tersebut sebagai yang terbaik di era Premier League oleh para Gooners pada 28 Mei 2010 atau delapan setelah gol itu dibuat.

Mau tau bagaimana kejeniusan seorang Dennis Bergkamp? Simak video di bawah ini:

Inilah Sebab Pertengakaran Alex Ferguson Dan David Beckham

Ferguson Beckham

Ferguson BeckhamSiapa tidak kenal David Beckham? Beckham merupakan salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki oleh Manchester United. Namun, masa-masa terakhirnya bersama MU memang kurang baik karena diawali oleh perselisihan dengan manajer MU kala itu, Sir Alex Ferguson. Dalam buku otobiografi milik Ferguson, dia mengatakan David Beckham harus pergi dari Manchester United karena dia merasa “lebih besar dari manajer”.

Dalam otobiografinya itu, Ferguson mengatakan jika dia terlibat pertengkaran dengan David Beckham karena mengkritik permainan mantan kapten tim nasional Inggris itu laga melawan Arsenal di ajang Piala FA tahun 2003. Dalam laga itu sendiri The Red Devils dikalahkan oleh The Gunners.

“Jika ada salah seorang Manchester United merasa lebih besar dari manajer, itu berarti sudah waktunya dia perrgi. David merasa ia lebih besar dari Alex Ferguson. Itu berarti waktunya di United sudah habis,” tulis mantan manajer Manchester United ini.

david-beckhamSelain karena masalah itu, Alex Ferguson juga was-was dengan gaya hidup bergaya selebritis Beckham setelah menikah dengan Victoria Adams, yang kala itu merupakan anggota dari girlband top dunia, Spice Girls. Memang setelah menikah dengan Victoria, Beckham lebih disibukan dengan acara di luar sepakbola.

“David merupakan satu-satunya pemain yang saya latih yang lebih mementingkan ketenaran pribadi, yang memiliki misi untuk terkenal di luar sepakbola. Saya merasa tidak nyaman dengan gaya kehidupannya yang seperti selebritis.” tulis Alex Ferguson.

Selama memperkuat Manchester United, Bekcham memang meraih sukses besar. Bermacam trofi berhasil dimenangkannya, diantaranya adalah enam Liga Primer, dua Piala FA dan satu Liga Champions. Pada tahun 2003, David Beckham pun dijual ke Real Madrid seharaga 25 juta poundsterling.

Menendang sepatu ke Bekcham

Alex Ferguson akhirnya mengundurkan diri sebagai pelatih Manchester United pada bulan Mei tahun 2013, mengakhiri karir sebagai salah satu manajer yang paling berhasil dalam sejarah sepak bola Inggris.

Selama 27 tahun jadi manajer di Old Trafford, Alex Ferguson memenangkan 38 piala di seluruh ajang kompetitif dan berhasil melatih banyak pemain top dunia seperti dalam sepak bola seperti Beckham, Eric Cantona, Cristiano Ronaldo, Peter Schmeichel, Ryan Giggs, Jaap Stam, Ruud Van Nistelrooy, serta Wayne Rooney.

Marcelo Salas, Sang Matador Sejati

Marcelo Salas

Marcelo SalasSebutan El Matador untuk saat ini melekat dengan sosok penyerang Paris Saint-Germain, Edinson Cavani. Ada yang menyebut jika sebenarnya yang layak untuk mendapat julukan tersebut bukanlah Cavani, melainkan penyerang legendaris tim nasional Chile, Marcelo Salas.

Pernah muncul satu pernyataan dengan bahasia Italia yang berbunyi: ‘Marcelo Salas, l’unico vero Matador!’ yang artinya ‘Marcelo Salas, satu-satunya Matador sejati’ itu menunjukkan bahwa sosok yang dimaksud memang benar-benar diakui sebagai seorang stiker jempolan.

Salas merupakan salah satu sosok yang dihormati di Italia, khususnya oleh publik Lazio. Hal itu wajar mengingat puncak kejayaan karier Salas terjadi ketika memperkuat klub rival sekota AS Roma tersebut. Pria yang lahir pada tanggal 24 Desember 1974 itu mencicipi 9 gelar di Italia dengan 6 buah di antaranya dilakoni bersama Lazio.

Bersama Il Biancocelesti, Salas ikut mengangkat trofi juara Serie A dan Coppa Italia di musim 1999-2000, Piala Super Italia 1998 dan 2000, Piala Winners 1998-1999, serta Piala Super Eropa 1999.

Sisa 3 gelar Salas di Italia diraihnya bersama Juventus, yakni juara Serie A 2001-2002 dan 2002-2003,ditambah dengan Piala Super Italia 2002. Rangkaian prestasi itu lahir sebelum Cavani (29) melakoni debut profesional bersama Danubio pada 2005.

Julukan ‘Matador Sejati’ juga melekat dalam diri Salas karena selebrasi khasnya setelah mencetak gol. Dia seringkali berlutut sambil memberikan salam kepada pendukung, sama seperti aksi yang sering dilakukan oleh seorang matador alias petarung banteng.

Meski posturnya terbilang kecil untuk seorang penyerang di Eropa (1,73 meter), Marcelo Salas tidak bisa dianggap remeh saat melakukan duel udara. Kaki kirinya mematikan, serta didukung oleh determinasi tinggi dalam merebut, mempertahankan bola, dan mengeksekusi peluang.

Sayangnya, semua itu harus berakhir saat Marcelo Salas mengalami kerusakan pada anterior cruciate ligament (ACL) saat membela Juventus. Cedera semacam itu membutuhkan masa istirahat panjang dan Salas tidak mampu lagi menemukan permainan terbaiknya usai pulih.

Setelah sembuh dari cedera, Salas hanya mampu tampil sebanyak 18 kali dan bikin 2 gol dalam dua musim di Juventus (2001-2003). Setelah mengalami degradasi performa, Salas pergi dari Italia untuk membela dua klub lamanya, River Plate (2003-2005) dan Universidad (2004-2008).

Karena gagal kembali ke bentuk permainan terbaiknya di beberapa musim terakhir, Marcelo Salas akhirnya pensiun dari arena sepakbola dalam usia 33 tahun, pada November 2008.

Setelah pensiun, Salas ditunjuk menjadi Ketua Klub Union Temuco di Divisi II Liga Cile. Sang Matador meninggalkan warisan rekor yang belum terpecahkan, yakni top scorer sepanjang masa tim nasional Chile dengan 37 gol dalam 70 pertandingan.

Perkembangan Jersey Dari Waktu Ke Waktu

Jersey

JerseyJersey atau seragam adalah hal yang tak bisa dilepaskan dari sepakbola. Semakin kesini, aturan jersey dan teknologi yang dipakai oleh pemain sepakbola pun berubah-ruba karena perkembangan zaman. Pada akhir abad 18, ketika sepakbola mulai populer di Inggris aturan menyangkut jersey belum ditetapkan oleh FA karena pemain diperbolehkan memakai pakaian apapun yang mereka sukai.

Pada tahun 1891, FA membuat aturan bahwa seluruh pemain dalam satu klub diwajibkan memakai pakaian yang seragam. Masing-masing mendaftarkan warna jersey mereka masing-masing. Di masa itu jersey sepakbola awalnya berat, karena menggunakan bahan wol dan berlengan panjang, ada yang tidak memakai kerah, ada juga yang memakai ikat leher. Celana yang biasa dipakai pun celana panjang.

Pada abad akhir abad 18, diterbitkan sebuah peraturan baru yakni tim tuan rumah wajib menggunakan jersey yang berbeda jika seragamnya sama dengan jersey tim tamu. Aturan ini kemudian dirubah tahun 1921, yakni tim tamu yang harus memakai jersey yang berbeda saat bertandang. Aturan ini pun tetap bertahan hingga sekarang.

JerseyPada abad 19, pembuatan jersey memakai kain yang berbahan katun. Jersey pun terasa lebih ringan untuk para pemain. Pada masa ini jersey sudah memakai nomer punggung pemain, aturan pemberian nomor pada jersey disahkan pada tahun 1928.

Di pertengahan abad 19 tepatnya di era 1950-1960an jersey mulai dibuat dengan kain berbahan sintetis. Mulai populer memakai emblem klub atau logo yang ditempelkan ke jersey. Untuk bagian kerah, pada dekade ini muai populer penggunaan kerah berbentuk V yang biasa disebut V neck.

Pada dekade 1970-an, perusahaan apparel-aparrel raksasa dunia seperti Nike, Adidas, Puma, Umbro, dan lain-lain mulai berebut menjadi sponsor sepakbola. Sejak itu Logo-logo apparel mulai dipasang di seragam-seragam. Kehadiran apparel membuat ada sebuah peraturan yang dilanggar.

Memasuki awal abad 19, ada sebuah aturan tidak tertulis bahwa seragam penjaga gawang harus berwarna hijau. Masuknya apparel membuat regulasi melonggar dan mengizinkan vendor aparrel bereksperimen dengan desain.

real madrid jerseyDi era 1980-1990an mulailah jersey seragam bisa mengeruk keuntungan untuk klub dengan cara memberikan ruang untuk sponsor menempel disana. Dari sisi desain mulai muncul garis bayangan yang melintas dan membujur pada jersey.

Memasuki era 2000-an pembuatan jersey makin canggih, dengan penggunaan bahan lycra, dri-fit. Sistem sirkulasi udara pun mulai dipikirkan melalui panel berongga pada kain jersey.

Tidak jarang pula jersey-jersey yang dibuat sekarang ini bisa dipasang sebuah alat canggih untuk bisa mengukur detak jantung, tingkat kelelahan, serta banyak informasi lain dari si pemakainya.

Jersey yang pada awalnya dibuat sebagai pembeda dengan tim lawan kini bisa jadi sebagai ajang pamer teknologi sekaligus pengeruk keuntungan untuk sebuah klub.

Deretan Penjaga Gawang Terbaik Dunia

Penjaga gawang merupakan salah satu peran dalam sepakbola yang bertugas mengamankan gawang agar tidak kebobolan gol. Tidak harus menjadi seorang penjaga gawang terbaik dunia karena memang sudah pekerjaan utamanya untuk mempertahankan tim yang dia pegang.

Sebenarnya tugas dari seorang penjaga gawang (kiper) sangatlah berat. Sebab, dia akan menjadi tembok pertahanan terakhir dalam sebuah tim ketika bertanding sepakbola. Seorang yang mendapat julukan sebagai kiper terbaik di dunia serta berkualitas tentu mempunyai kemampuan, gerak refleks yang spontan cepat dan bagus.

Berikut ini terangkum 5 penjaga gawang terhebat sepanjang masa dari sekian banyak penjaga gawang terbaik di dunia:

1.Claudio Taffarel (Brasil)
Taffarel
Cláudio André Mergen Taffarel atau Claudio Taffarel masuk ke dalam daftar penjaga gawang terbaik karena banyaknya gelar yang diraihnya ketika memperkuat tim nasional Brasil.

Bersamanya, Brasil meraih memenangkan Piala DUnia 1994 dan runner up di tahun 1998 ketika dikalahkan Perancis 0 – 3. Gelar juara untuk Copa America juga berhasil dia dapatkan untuk Brasil di tahun 1989 serta 1997. Dengan tinggi badannya sekitar 1,83 meter, penjaga gawang yang lahir pada 8 Mei 1966 ini sangat disegani di zamannya.

2. Dino Zoff (Itali)
Dino Zoff
Untuk sebagian besar suporter Juventus, sosok Dino Zoff merupakan sosok the Italian Legend. Dengan tinggi sekitar 1,82 meter, dia masih mampu bermain saat sudah berumur 41 tahun untuk klub dan tim nasional Italia. Bersamanya, Juventus memenangkan 6 kali di Serie A serta juara Piala Dunia sebanyak 1 kali untuk Italia. Tidak heran jika namanya masuk dalam salah satu penjaga gawang terbaik sepanjang masa.

3. Gianluigi Buffon (Italia)
Buffon
Gianluigi Buffon pernah menyaber penghargaan sebagai kiper terbaik di dunia sepanjang masa abad 21 dari International Federation of Football History & Statistics (IFFHS). Hal ini berkat skill kemampuan yang dimiliki Buffon sebagai penjaga gawang yang tidak terbantahkan lagi.

Tim nasional Italia pernah dibawanya menjuarai Piala Dunia 2006. Hebatnya, sepanjang pertandingan di semua turnamen, ia hanya kemasukan sebanyak dua gol! Satu dari penalti Zinadine Zidane, yang kedua dari gol Zaccardo rekan satu timnya (gol bunuh diri).

4. Peter Boleslaw Schmeichel (Denmark)
peter schmeichel
Peter Boleslaw Schmeichel atau Peter Schmeichel adalah salah satu seorang penjaga gawang terbaik dunia karena karir Peter yang fantastis dan gemilang. Didukung tinggi badan setinggi 1,91 meter, pria yang lahir pada 18 November 1963 ini pernah mengantarkan Manchester United memperoleh treble winner di tahun 1997 sampai 1998.

Sementara di level tim nasional, Peter Schmeichel juga berkontribusi atas perolehan Piala Eropa di tahun 1992. Peter Schmeichel juga menyabet gelar penjaga gawang terhebat dunia sebanyak 4x (1992, 1993, 1997 dan 1999).

5. Edwin van der Sar (Belanda)
Van de Sar
Penjaga gawang yang meraih berbagai kesuksesan bersama Manchester United ini memang memiliki kemampuan jempolan. Dengan tinggi badan yang hampir 2 meter (1,97 meter), Van Der Sar bahkan masih sanggup bermain di umur 40 tahun pada periode 2010 sampai 2011.

Bersama rekan satu timnya Ryan Giggs dan Paul Scholes yang sama-sama sudah berusia dia atas 30 tahun, Van Der Sar membawa The Red Devils meraih berbagai macam gelar kala itu.

5 Pemain Paling Terkenal Di Piala Dunia

diego maradona

diego maradonaSelalu saja ada cerita menarik yang mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia. Tidak hanya dari soal prestasi, namun kontroversi dan beberapa momen-momen menarik membuat Piala Dunia tersebut memiliki catatan sejarah lebih dan menarik untuk diperbincangkan.

Selain kejadian-kejadian tersebut, ada beberapa nama yang tidak bisa dipisahkan dengan event sepakbola terbesar empat tahunan ini. Mereka adalah pemain-pemain dengan torehan prestasi yang tidak dimiliki oleh sebagian besar pemain lain. Berikut ini terangkum 5 nama pesepakbola yang paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia.

1. Pele
Pele
Tidak bisa dibantah jika Pele merupakan pemain sepakbola terbaik sepanjang masa. Dia merupakan satu-satunya pemain yang pernah memenangkan tiga kali Piala Dunia. Mengangkat trofi Piala Dunia pertamanya pada 1958, di mana saat itu dia masih berusia 18 tahun. Empat tahun kemudian dia kembali memenangkan Piala Dunia meskipun hanya bermain sekali selama kompetisi karena cedera. Di Piala Dunia 1970, Pele kembali mengantarkan tim Samba meraih prestasi tertinggi di Piala Dunia yang sekaligus menjadi yang terakhir dalam kariernya.

2. Diego Maradona
Maradona
Bersama Pele, Dieg Armando Maradona tercatat dalam jajaran pemain terbaik abad 20 pilihan FIFA. ‘El Pibe de Oro’ atau The Golden Boy menjadi kapten tim nasional Argentina ketika juara pada Piala Dunia 1986. Namun Maradona menjadi pemain yang paling dibenci oleh rakyat Inggris karena gol ‘tangan tuhan’-nya. Namanya tercoreng karena terlibat dalam kasus penyalahgunaan narkoba.

3. Ronaldo Luiz Nazario de Lima
Ronaldo
Ronaldo merupakan gol terbanyak Piala Dunia dengan 15 gol. Ia juga masuk ke dalam bagian squad tim nasiomal Brasil yang menjadi juara Piala Dunia 1994. Tampil buruk saat dikalahkan oleh oleh Perancis di final 3-0 1998, namun empat tahun kemudian menjadi pahlawan kemenangan dengan dua golnya yang mengantarkan kesebelasan Brasil meraih trofi Piala Dunia ke-5.

4. Zinedine Zidane
Zidane
Orang yang tidak suka dengan sepakbola sekalipun pasti pernah mendengar nama nama Zidane karena tandukannya pada Marco Materazzi pada final Piala Dunia 2006. Kartu merah yang dia dapatkan saat itu menjadi noda dalam kecemerlangan karirnya. Sebelumnya, Ia tiga kali menyabet status sebagai pemain terbaik dunia. Zidane juga menjadi salah satu mencetak dua gol ketika mengalahkan Brasil pada final Piala Dunia 1998. Pernah menjadi pemain dengan transfer termahal (65 juta dolar) ketika dibeli Real Madrid dari Juventus.

5. Johan Cruyff
Johan Cruyff
Walaupun belum pernah sekalipun jadi juara di Piala Dunia, nama Johan Cruyff berhasil membuat Piala Dunia 1974 menjadi lebih atraktif dengan gaya ‘Total Football’-nya. Bersama Johan Cruyff , tim nasional Belanda berhasil sampai ke babak final setelah menaklukan tim kuat seperti Uruguay, Argentina dan Brasil.

Piala Dunia 1990, Event Sepakbola Paling Membosankan Sepanjang Sejarah

Piala Dunia 1990Piala Dunia 1990 bisa dibilang sebagai salah satu event sepak bola yang paling ‘tidak menarik’ sepanjang sejarah. Alasannya sudah jelas karena jumlah gol yang tercipta, hanya 115 gol dalam 52 pertandingan (rata-rata 2,21 gol dalam setiap pertandingan) dan menjadi yang terendah sejak tahun 1930.

Kala itu, pemikiran soal dunia sepak bola memang mengalami banyak perubahan. Banyaknya gol yang berhasil dibuat oleh sebuah tim akan terasa percuma jika akhirnya mereka gagal menang. Alhasil, setiap tim cenderung fokus di sektor pertahanan ketimbang ketajaman lini depan.

Keadaan tersebut sudah berjalan sejak fase group sampai ke partai final, yang berlangsung di Stadion Olimpico, Roma. Jerman Barat dan Argentina yang sama-sama lolos ke babak final akan saling memperebutkan gelar Piala Dunia ketiga tampak bermain dengan tempo lambat.

argentinaBagi publik, permainan dengan pendekatan bertahan yang diterapkan oleh Argentina mungkin bisa dimaklumi. Walaupun masih diperkuat oleh si gol Tangan Tuhan, Diego Maradona, La Albiceleste memang tak pernah menang lebih dari 2-0 sejak fase grup.

Bahkan, tim yang waktu itu dilatih oleh Carlos Bilardo ini harus dua kali memenangkan laga melalui drama adu penalti.

Sementara itu, bermain lambat dan hati-hati sesungguhnya bukanlah wajah asli Jerman mengingat di fase grup mereka adalah tim tersubur dengan torehan 10 gol. Namun, saat memasuki fase gugur, Jerman mulai pragmatis. Skor tipis tidak masalah, asalkan menang.

Terbukti, Der Panser secara berturut-turut mengalahkan kesebelasan Belanda perdelapan final, Cekoslovakia (perempat final) dengan skor tipis. Di babak semifinal, Jerman bahkan harus menjalani adu penalti melawan kesebelasan Inggris setelah bermain imbang 1 – 1 selama 120 menit.

Tiket final akhirnya berhasil mereka dapatkan berkat kemenangan 4-3 di babak adu penalti. Pertandingan pamungkas akhirnya dimenangi oleh Jerman dengan skor tipis 1 – 0. Satu-satunya gol yang tercipta didapatkan melalui eksekusi penalti Andreas Brehme menyusul pelanggaran Nestor Sensini terhadap Rudi Voeller di kotak terlarang pada menit ke-85.Piala-dunia-1990

Suka Jerman menjadi duka mendalam untuk Argentina. Maradona dan rekan-rekannya mencatatkan rekor buruk sebagai tim pertama yang gagal mencetak gol di partai final. Sebelumnya, tim-tim yang berlaga di babak final selalu bisa mencetak gol sejak edisi perdana (1930).

Kekecewaan akan kekalahan itu juga semakin disempurnakan dengan dua kartu merah yang mereka dapatkan di babak final, yaitu Pedro Monzon (menit ke-65) dan Gustavo Dezotti (87’). Lengkap sudah penderitaan Tim Tango dan Maradona.

5 Jersey Sepakbola Paling Bersejarah

Para penggemar sepakbola biasanya selalu berburu jersey terbaru klub atau tim nasional favorit mereka. Namun, ada dari sebagai fans sepakbola yang punya selera berbeda. Beberapa orang ada yang lebih suka memburu jersey klasik yang punya nilai sejarah, baik karena jersey tersebut dipakai oleh tim yang memenangkan sebuah trofi bergengsi atau karena identik dengan seorang pemain tertentu.

Berikut ini adalah 5 Jersey Sepakbola Yang Paling Bersejarah:

1. AC Milan 1993/1994
ac milan

AC Milan dinilai punya salah satu jersey bergaris terbaik di dunia, dengan warna khas merah-hitam. Jersey bermotif ini sudah dipakai sejak puluhan tahun silam. Namun ada salah satu jersey yang dianggap paling spesial, yakni jersey musim 1993/1994.

Jersey musim 1993/1994 dinilai spesial karena jersey ini dipakai oleh Il Diavolo Rosso saat meraih predikat treble winners. Kala itu tim asal kota mode ini berhasil memenangkan Serie A, Supercoppa Italiana, dan menghantam Barcelona 4-0 di final European Cup.

2. Barcelona 1999/2000 Centenary Edition
Barcelona

Jersey ini spesial karena dibuat untuk merayakan 100 tahun berdirinya klub Barcelona. Dengan kombinasi warna merah dan biru yang menjadi warna kebanggaan mereka, namun dibuat dengan desain yang agak berbeda dari biasanya dan tulisan 1899-1999 di bagian depan, kesan istimewa pun terasa.

Beberapa pemain top kala itu yang berkesempatan memakai jersey spesial ini adalah Josep Guardiola, Luis Figo, Kluivert, Ronald De Boer, dan juga dua orang yang masih aktif bermain sampai saat ini, Xavi Hernandez dan Andres Iniesta.

3. Real Madrid 1997/1998
Real Madrid

Jersey ini dikenakan oleh Real Madrid ketika menang lawan Juventus melalui gol Predrag Mijatovic di final Liga Champions 1998. Itu merupakan pertama kalinya sejak 1966 El Real menjadi juara di kompetisi paling elit di Benua Biru.

Pemain bintang Real Madrid kala itu yang memakainya antara lain adalah Roberto Carlos, Fernando Hierro, Clarence Seedorf, Fernando Redondo, serta Raul Gonzalez. Sedikit warna ungu yang ditambahkan di jersey berwana putih ini pun seakan menjadi simbol dari klub peraih Piala Liga Champions terbanyak tersebut.

4.Manchester United 1998/1999
Manchester United
Di final Liga Champions 1998/1999, dunia menjadi saksi salah satu momen paling hebat dalam sepakbola. Waktu itu, Manchester United secara dramatis memenangkan Liga Champions usai mengalahkan tim raksasa Bundesliga, Bayern Munich 2 – 1 di Camp Nou.

Kebobolan sejak menit 6 oleh gol Mario Basler, The Red Devils akhirnya berpesta di akhir laga berkat gol-gol pembalik keadaan Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer pada masa injury time yang semuanya berawal dari sepak pojok David Beckham. Di musim itu Manchester itu juga menjadi tim pertama yang sukses meraih predikat treble winners usai memastikan diri menjuarai Premier League dan Piala FA.

5. Argentina Piala Dunia 1986
Argentina

Setelah daftar sebelumnya adalah jersey-jersey di level klub, kali ini adalah jersey tim nasional. Ini merupakan jersey yang dipakai oleh tim nasional Argentina di Piala Dunia 1986. Diego Maradona menjadi sosok sentral keberhasilan La Albiceleste, dengan seragam putih-biru langit kebesarannya, menjadi sosok yang paling banyak dibicarkan publik dunia.

Ketika itu, Argentina berhasil mengatasi rintangan yang diberikan oleh kesebelasan Korea Selatan, Italia, Bulgaria, Uruguay, Inggris ( ditambah dengan gol Tangan Tuhan serta gol yang dianggap sebagai gol terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia ), serta timnas Belgia.