Bola DuniaSerba Serbi

3 Pelatih Klub Besar Yang Dilanda Isu Pemecatan

Pelatih Terbaik Dunia

Pelatih Terbaik Dunia

Memutuskan menjadi seorang pelatih pastinya harus siap menghadapi berbagai tekanan baik di dalam maupun di luar lapangan. Satu contoh yang paling terlihat banyaknya tekanan terhadap sang pelatih adalah ketika memutuskan berkarir di dunia sepak bola Eropa.

Merujuk pada situasi sepak bola Eropa, pelatih dituntut untuk bisa memberikan hasil cepat, jika tidak ingin di pecat. Banyak pelatih menjadi kambing hitam atas hasil-hasil buruk yang di derita tim sepak bola, mereka sampai rela di pecat karena tidak memberikan hasil terbaik.

Kini musim Liga dari seluruh Eropa sudah memasuki musim 2018-2019, dimana awal musim Liga dari berbagai belahan negara sudah memperlihatkan betapa sulitnya mencari sebuah kemenangan. Dan muncul beberapa nama pelatih yang saat ini sedang berada dalam tekanan karena dianggap tidak maksimal.

Berikut kami sampaikan 3 sosok pelatih yang berada dalam tekanan, dan tekanan yang lebih menonjol adalah soal keadaan tim yang terus memburuk, dan hal ini menyebabkan munculnya isu pemecatan.

1. Niko Kovac

Pelatih Munchen

Niko Kovac terpilih sebagai pelatih yang dianggap cocok mengarsiteki Bayern Munchen. Keputusan ini terjadi usai dirinya memberikan hasil cemerlang bersama Eintracht Frankfurt. Hasil baik pun terjadi, di awal musim Bayern nampak dominan dengan bertengger di posisi puncak klasemen.

Menariknya disini ketika badai menerpa mereka, dan buktinya penampilan Munchen merosot sangat tajam. Munchen bermain imbang melawan Augsburg dan kalah tiga kali berturut-turut melawan Hertha, FC Monchengladbach. Hasilnya, posisi Munchen digantikan oleh Borussian Dortmund.

Tak berhenti sampai disitu saja, Munchen juga harus menanggung beban karena hanya mampu bermain imbang kontra Ajax dengan skor 1-1 di ajang Liga Champions. Lebih panasnya lagi ketika Kovac diisukan bertengkar dengan James Rodriguez setelah pemain Kolombia itu tidak dimainkan secara reguler.

Munchen bisa dikatakan sebagai tim langganan juara Bundesliga Jerman, namun di musim ini istilah tersebut mulai hilang, terlihat Kovac justru tengah kesulitan saat ini.

2. Jose Mourinho

MU Pecat Mou

Jose Mourinho bisa dibilang sebagai pelatih dengan selalu mendapatkan trophi di setiap musimnya. Menariknya disini ketika musim lalu dirinya absen dalam perburuan gelar bersama Manchester United, kini dengan musim yang berbeda, dirinya bertekad untuk menjadi jawara di Liga Primer.

Bursa transfer datang, namun momen itu menjadi awalan buruk bagi Mourinho. Terlihat sampai saat ini, Manchester United nampak kesulitan menemukan penampilan terbaiknya, dan harus puas terlempar dari posisi empat besar klasemen Premier League Inggris.

Catatan kehilangan poin Manchester United terjadi ketika melawan Brighton, Tottenham, Wolves dan West Ham. Dan lebih parahnya lagi mereka harus tersingkir di awal pembuka ajang Carabao Cup di mana mereka disingkirkan tim Championship Derby County.

Dari hasil-hasil buruk tersebut, patut harus diperhitungkan ketika mereka belum terkalahkan di partai Liga Champions setelah berbagi poin melawan Valencia dan mengalahkan Young Boys. Meski demikian, isu pemecatan Mourinho tidak pernah pudar dan ada spekulasi bahwa United mungkin akan menunjuk Zinedine Zidane.

Banyak yang beranggapan jika Zidane pantas diberikan beban berat Mourinho untuk dilanjutkan dan dibereskan seperti halnya membereskan Real Madrid yang dengan sukses menjadi juara Liga Champions tiga kali beruntun.

3. Julen Lopetegui

Kehebohan Zinedine Zidane di Real Madrid nampaknya sudah mulai pudar, dimana Madrid sudah mendapatkan sosok Julen Lopetegui. Zidane berhasil memenangkan tiga gelar Liga Champion secara beruntun dalam dalam dua setengah tahun di klub, dan hal inilah mengapa beban berat Julen terjadi.

Tak hanya mendapatkan tekanan dalam bayang-bayang prestasi Zidane, akan tetapi Julen harus menerima kenyataan karena harus kehilangan Cristiano Ronaldo. Sampai datang pada waktunya, dimana ujian pertama Julen adalah Atletico Madrid di Piala Super Eropa meski Real Madrid akhirnya kalah 4-2.

Kekalahan itu tidak lantas memberikan tekanan hebat kepada Julen, karena banyak yang menganggap momen itu adalah momen adaptasi sebagai pelatih baru. Adapun hal positif mengalir dalam diri Madrid, dimana mereka sukses memenangkan 13 poin dari 15 dalam lima pertandingan pertama La Liga.

Tak berhenti sampai disitu saja, Madrid juga memulai debutnya di Liga Champions dengan mengalahkan AS Roma. Berjalannya waktu, badai besar pun datang. Madrid harus menerima kenyataan kalah dari Sevilla dengan skor telak 3-0. Lalu berlanjut dengan bermain buruk dalam derby melawan Atletico Madrid.

Seakan tak mau berhenti, hasil buruk kembali terjadi dalam dua pertandingan berikutnya melawan CSKA Moscow di Liga Champions dan Alaves di La Liga. Situasi ini jelas memberikan tekanan besar kepada Julen yang harus bisa membuat timnya bangkit dalam waktu dekat kalau tidak ingin kehilangan jabatannya sebagai orang terdepan Madrid di atas lapangan.