Liga Spanyol

Morata Bercerita Tentang Kegalauannya Saat Di Juventus

Alvaro MorataSetiap orang pernah merasakan perasaan bimbang, tidak terkecuali untuk seorang pemain sepakbola top dunia, Alvaro Morata. Karena perasaan bimbangnya tersebut, Morata sempat terpuruk ketika berada di Juventus.

Morata bercerita soal salah satu titik terburuk dalam kariernya, saat dia masih memperkuat Juventus. Penyerang internasional Spanyol itu direkrut Juventus pada awal musim 2014/2015 dari Real Madrid saat masih berusia 20 tahun.

Musim pertamanya bersama La Vecchia Signora berjalan cukup menyenangkan. Morata meraih dua gelar domestik, Serie A dan Coppa Italia, juga mencuri perhatian melalui golnya di dua laga semifinal Liga Champions musim itu, diikuti gol lainnya di final. Hanya saja Morata dan Juventus harus puas dengan posisi runner-up, setelah dikalahkan oleh Barcelona.

Pada musim keduanya merumput di Turin, Morata kesulitan. 115 hari sempat dilaluinya dengan puasa gol. Ada sorotan besar diarahkan kepadanya waktu itu, tapi masalah lebih besar dialaminya di luar lapangan.

Ada banyak hal yang membuat perasaannya galau saat itu. Pergi merantau di usia yang muda, bertarung mendapatkan tempat di Juventus, kemudian klausul pemulangan yang dimiliki Madrid, yang Morata bahkan tidak punya kewenangan apapun. Semuanya berkumpul menjadi satu. Termasuk persoalan lain, jauh di dalam kehidupan pribadinya.

Suasana hatinya kacau dan itu yang membuat permainannya merosot drastis. Hal tersebut kemudian disadari oleh staf pelatih, juga kapten Juventus Gianluigi Buffon.

“Saya baru saja selesai latihan suatu hari. Sesi itu semuanya berjalan dengan, sangat buruk, salah satu yang terburuk sepanjang hidup saya. Saya bahkan tidak bisa membawa bola. Saya sangat kacau waktu itu, saya sangat sedih, ada Gigi Buffon di sebelah saya,” ungkap Morata.

“Gigi berkata kepada saya bahwa jika saya ingin menangis, lakukan saja di rumah. Dia mengatakan bahwa orang-orang yang menginginkan saya terpuruk akan senang melihat itu, dan orang-orang di sekitar saya akan sedih melihatnya.”

Sejak saat itu, Morata kemudian mulai menemukan kembali ketajamannya. Morata sendiri akhirnya pulang ke Real Madrid sejak akhir musim 2015/2016, setelah Los Blancos mengaktifkan klausul buy-back.