Klasik

Marcelo Salas, Sang Matador Sejati

Marcelo SalasSebutan El Matador untuk saat ini melekat dengan sosok penyerang Paris Saint-Germain, Edinson Cavani. Ada yang menyebut jika sebenarnya yang layak untuk mendapat julukan tersebut bukanlah Cavani, melainkan penyerang legendaris tim nasional Chile, Marcelo Salas.

Pernah muncul satu pernyataan dengan bahasia Italia yang berbunyi: ‘Marcelo Salas, l’unico vero Matador!’ yang artinya ‘Marcelo Salas, satu-satunya Matador sejati’ itu menunjukkan bahwa sosok yang dimaksud memang benar-benar diakui sebagai seorang stiker jempolan.

Salas merupakan salah satu sosok yang dihormati di Italia, khususnya oleh publik Lazio. Hal itu wajar mengingat puncak kejayaan karier Salas terjadi ketika memperkuat klub rival sekota AS Roma tersebut. Pria yang lahir pada tanggal 24 Desember 1974 itu mencicipi 9 gelar di Italia dengan 6 buah di antaranya dilakoni bersama Lazio.

Bersama Il Biancocelesti, Salas ikut mengangkat trofi juara Serie A dan Coppa Italia di musim 1999-2000, Piala Super Italia 1998 dan 2000, Piala Winners 1998-1999, serta Piala Super Eropa 1999.

Sisa 3 gelar Salas di Italia diraihnya bersama Juventus, yakni juara Serie A 2001-2002 dan 2002-2003,ditambah dengan Piala Super Italia 2002. Rangkaian prestasi itu lahir sebelum Cavani (29) melakoni debut profesional bersama Danubio pada 2005.

Julukan ‘Matador Sejati’ juga melekat dalam diri Salas karena selebrasi khasnya setelah mencetak gol. Dia seringkali berlutut sambil memberikan salam kepada pendukung, sama seperti aksi yang sering dilakukan oleh seorang matador alias petarung banteng.

Meski posturnya terbilang kecil untuk seorang penyerang di Eropa (1,73 meter), Marcelo Salas tidak bisa dianggap remeh saat melakukan duel udara. Kaki kirinya mematikan, serta didukung oleh determinasi tinggi dalam merebut, mempertahankan bola, dan mengeksekusi peluang.

Sayangnya, semua itu harus berakhir saat Marcelo Salas mengalami kerusakan pada anterior cruciate ligament (ACL) saat membela Juventus. Cedera semacam itu membutuhkan masa istirahat panjang dan Salas tidak mampu lagi menemukan permainan terbaiknya usai pulih.

Setelah sembuh dari cedera, Salas hanya mampu tampil sebanyak 18 kali dan bikin 2 gol dalam dua musim di Juventus (2001-2003). Setelah mengalami degradasi performa, Salas pergi dari Italia untuk membela dua klub lamanya, River Plate (2003-2005) dan Universidad (2004-2008).

Karena gagal kembali ke bentuk permainan terbaiknya di beberapa musim terakhir, Marcelo Salas akhirnya pensiun dari arena sepakbola dalam usia 33 tahun, pada November 2008.

Setelah pensiun, Salas ditunjuk menjadi Ketua Klub Union Temuco di Divisi II Liga Cile. Sang Matador meninggalkan warisan rekor yang belum terpecahkan, yakni top scorer sepanjang masa tim nasional Chile dengan 37 gol dalam 70 pertandingan.