Berita Sepak Bola Liga Champions

11 Alasan Barcelona Dibenci Pendukung Klub Lain

FC Barcelona

Klub sepakbola yang berada di Catalan, selama beberapa tahun ini sukses menjadi salah satu klub yang paling dibenci oleh pendukung klub lain. Tak cuma hanya dalam negeri Matador saja, tapi juga yang berada di kawasan Eropa. Setiap kali drawing kompetisi paling bergengsi di benua Biru, para partisipan selalu berdoa supaya tidak menghadapi mereka. Hal ini disebabkan banyaknya kasus yang berujung dengan kegagalan dengan angka gol yang tak masuk akal.

Terdapat banyak hal yang mengakibatkan suporter klub lain iri dan benci terhadap juara Liga Champions dan La Liga musim lalu ini. Usai Manchester United dan Real Madrid, sekarang akan dijelaskan alasan kita harus merasa iri pada tim Catalan ini. Dan ada kemungkinan Anda akan menjadi pendukung Barcelona dan meninggalkan tim kesayangan Anda setelah membaca penjelasan berikut.

  1. Diving

FC Barcelona

Setiap kali menghadapi tim yang satu ini, para penggawa rival kerap kali melakukan tindakan tidak percaya. Dari yang peling ekspresif yakni berteriak atau mengumpat pada pemain Barcelona hingga cuma menggelengkan kepala saat wasit menganggap mereka melakukan pelanggaran. Meskipun pelanggaran yang mereka perbuat mungkin cuma bersinggungan dalam batas normal namun tidak bagi sang wasit.

Tuduhan tukang diving tidak dapat lagi hilang dari label penggawa Barcelona. Hal ini semakin diyakini dengan adanya bukti bahwa terdapat sesi latihan khusus diving dalam jadwal Blaugrana. Terlebih video dari bagian latihan itu pernah beredar belum lama ini.

  1. Menang terus

Barcelona

Seperti yang dikatakan tadi jika sebuah tim harus berhadapan dengan Barcelona dalam jadwal, maka mereka cuma berdoa agar dapat memperoleh satu angka. Yang kerap menjadi korban yaitu para kandidat La Liga, hal ini bisa diperhatikan bagaimana mereka mendominasi kompetisi dengan mengumpulkan trofi sejak masa Pep Guardiola. Secara keseluruhan perolehan 100 angka pada musim 2012/13 merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah liga berlangsung.

Sebelumnya mereka sukses mendapatkan 55 angka saat separuh musim baru berlangsung di edisi yang sama. Lagi-lagi mereka mencatatkan rekor baru. Pada 2014/15 jarak antara menciptakan gol dengan kemasukan gol mencapai angka 89. Ini menjadi pertanda bahwa tidak ada yang dapat menjadi tandingan kehebatan Barcelona yang berakhir pada sebuah percakapan, “bro nonton Barca yuk” yang di jawab dengan “ah bosen menang mulu soalnya”.

  1. Sergio Busquets

Sergio Busquets

Telah dikatakan bahwa memang label diving susah untuk hilang langsung dari dahi para penggawa Barca, ditambah lagi untuk nama satu ini, Sergio Busquets. Semua bingung saat namanya kerap muncul menjadi andalan di lini tengah bersamaan dengan Xavi dan Iniesta. Dua nama terakhir memang dikenal atas keahlian mengolah bola, satu dengan visi serta tingkat akurasi yang tinggi sedangkan satu lagi menggedor melalui aksi individu yang kadang menjadi solusi di saat membutuhkan gol krusial seperti melawan Chelsea di Champions League 2009.

Seluruh rasa penasaran dan bingung seketika terjawab saat menyaksikan aksi Busquets di lapangan, sayang dirinya sering gagal masuk nominasi Oscar sebagai best actor. Jika bisa masuk kemungkinan Leonardo Di Caprio ada baiknya pensiun dari layar lebar.

  1. Lionel Messi

Lionel Messi

Nama yang satu ini sukses mengakibatkan rival panik tiap kali bola berada di jangkauannya. Aksi darinya bisa dikatakan tidak dapat dihentikan oleh pemain lawan, baik itu melalui jalur darat ataupun udara. Semua pasti masih ingat bagaimana Vidic, Ferdinand serta Van der Sar mesti termenung akibat pemain satu ini menciptakan gol melalui sundulan yang juga memenangkan pertandingan puncak Liga Champions.

Usai itu, dirinya kian menjadi perhatian dengan julukan pemain terbaik dunia, sebutan alien yang diberikan oleh orang banyak terhadapnya menegaskan bahwa level permainan dirinya tidak selevel dengan para pemain profesional lainnya. Siapa yang dapat menolak Messi bergabung dengan tim impiannya, PSG saja bersedia menggelontorkan dana yang amat besar demi tanda tangannya, meskipun sampai sekarang sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa Messi akan hengkang dari Camp Nou yang sudah membesarkan namanya.

  1. Dominasi Eropa

Liga Champions

Sejak tahun 2006 hingga 2015, kekuatan Barcelona tidak cuma tertahan di pertandingan dalam negeri saja. Mendapatkan peluang untuk bermain di turnamen regional dan paling bergengsi, Liga Champions. Ketika seluruh tim bersaing untuk mendapatkan gelar terbaik, bintang-bintang dari liga lain saling bersaing cuma Barcelona yang berhasil melangkah sendirian. Hingga musim lalu, secara keseluruhan tim yang berada di Camp Nou telah empat kali mengangkat piala pada akhir kejuaraan.

Hal ini kian mengecilkan ruang trofi di kandang utama mereka. Hal yang mengakibatkan tim lain beserta pendukung garis kerasnya kian iri dan berkhayal sambil mengucapkan apa yang tersisa bagi kami?

  1. Wasit

Wasit

Sebagai pengadil di lapangan banyak pemain berharap lebih supaya figur sentral ini dapat mengambil keputusan sebijak mungkin. Apalagi dengan adanya bermacam kemajuan teknologi dan juga perangkat laga, sepertinya jalan menuju keadilan telah tepat.

Akan tetapi banyak dari tim rival Barcelona yang merasa dicurangi tiap kali berduel, hal ini dikarenakan saat wasit meniup peluit (lebih sering ketika pelanggaran), seluruh pemain Barcelona kecuali penjaga gawang mungkin karena jarak terlalu jauh, datang beramai-ramai mengelilingi si pengambil keputusan. Yang berakhir banyak kasus tidak sesuai, misalnya hukuman kartu kuning yang semestinya tidak keluar jika dilihat dengan rekaman ulang, justru keluar dari wasit yang memimpin laga, atau juga mungkin tidak semestinya wasit meniup peluit tanda pelanggaran terjadi.

  1. Camp Nou

Camp Nou

Menjadi tim besar maka sudah sepantasanya juga mempunyai stadion yang sanggup menampung animo dari pendukung setia. Camp Nou adalah salah satu tempat dengan peringkat kehadiran penonton yang tinggi, penonton tak pernah bosan datang untuk menyaksikan aksi dari penggawa Blaugrana melumatkan tim rival. Mereka juga sering memperlihatkan kreatifitas dengan membuat tifo seperti saat laga perpisahan Xavi. Kapasitas hingga hampir 100 ribu penonton dapat mengakibatkan mental pemain rival down.

Atmosfer begitu kental jadi tidak mengherankan jika dapat mendapatkan hasil maksimal seperti saat Atletico Madrid menjadi juara La Liga musim 2013/14 merupakan prestasi tersendiri. Sama saat di musim 2009/10 ketika Inter Milan melenggang ke partai puncak Liga Champions setelah menundukkan tuan rumah di markasnya sendiri, Jose Mourinho segera lari ke tengah lapangan dimana dirinya ingin membuat diam para suporter tuang rumah, namun yang ada justru memperoleh cibiran keras.

  1. Kasus Kepala Babi

Kepala Babi

Permusuhan antara Barcelona dengan Real Madrid sangat terlihat. Mungkin cuma di tim nasional Spanyol saja penggawa dari dua klub ini dapat terlihat lebih akrab, di lain waktu? Kondisinya seperti minyak dan air. Dari mulai berita mengenai kemampuan di bidang sepak bola hingga ke ranah politik kian membuat dua tim ini susah untuk dipisahkan.

Sampai akhirnya bintang internasional Portugal, Luis Figo mengambil keputusan untuk pergi dari Camp Nou membela Santiago Bernabeu. Sambutan keras dari para suporter Blaugrana tak tertahankan, caci-maki dapat dikatakan sebagai respon yang dapat diterima dengan akal sehat dibanding munculnya kepala babi sebagai tanda pengkhianatan Figo terhadap mereka.

  1. Tiki-Taka

Tiki Taka

Saat Pep Guardiola dipilih menjadi pelatih utama banyak yang kurang yakin dengan kualitas dirinya. Keraguan segera terjawab tuntas dengan menunjukkan gaya bermain yang sekarang dikenal dengan sebutan tiki-taka. Sampai-sampai hal ini terus terbawa hingga ke level internasional, La Furia Roja memberlakukan sistem bermain yang sama dan menuai hasil positif juga di sejumlah turnamen yang mereka jalani.

Mengakibatkan terutama para pendukung menilai bahwa inilah gaya bermain sepak bola paling benar, menghibur dan memberikan hasil positif. Jumawa merupakan kata paling tepat untuk menunjukkan bagaimana bangganya mereka dengan gaya seperti ini. Sedangkan dengan logika sederhana saja, tidak ada gaya bermain paling benar dalam sepak bola sebab jika itu ada maka semua tim dari level amatir hingga profesional akan memakai cara yang sama tiap kali berduel.

  1. Punya Banyak Pemain Bintang, Tapi Terus Beli Pemain Baru

Barcelona

Dengan keahlian dalam klub saja mereka sukses menguasai pertandingan dalam negeri dan regional. Seperti tidak perlu bantuan dari luar untuk melanjutkan kejayaan ini, akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka sama saja dengan klub-klub lain yang gemar belanja dengan nilai tinggi demi mendatangkan pemain. Dan banyak dari hasil belanja ini yang pada akhirnya cuma mengisi bangku cadangan saja.

Hal ini mengakibatkan tim-tim lain ketakutan sebab dapat mengurangi kualitas tim dengan minat Barcelona membeli pemain andalan. Contohnya Arda Turan dari Atletico Madrid, jika diperhatikan dengan seksama mungkin tak akan memberikan pengaruh besar kehadirannya di Camp Nou. Luis Suarez juga hadir dengan biaya fantastis yang mengakibatkan dirinya mau hengkang dari Anfield. Mungkin jika dia tidak dibeli keluar, maka musim lalu Liverpool masih dapat bertanding di Premier League, tiket ke Liga Champions mungkin berada dalam jangkauan, dan satu hal juga, mungkin Brendan Rodgers masih sibuk mengurusi tim ini dibanding liburan di Spanyol sebab tempatnya telah diisi oleh Jurgen Klopp.

  1. La Masia

La Masia

Siapa yang tak tahu yang namanya La Masia? Akademi sepak bola terbaik di Eropa hingga dunia dengan terobosan-terobosan terbaik di seluruh dunia. Xavi, Iniesta, Pique, Fabregas sampai Lionel Messi. Tim lain yang berada di muka bumi ini tentu bakal merasa iri dengan akademi ini. Kenapa tidak, dengan rancangan pelatihan yang disiplin dan terprogram dengan baik, Barcelona dengan mudah mendapatkan dan memetik hasil dari pengembangan pemain muda mereka.

Didirikan para tahun 1702, La Masia baru dipakai untuk menjadi pusat pelatihan akademi Barcelona pada tahun 1979 dan cuma dipakai untuk memuat para pemain muda mereka yang berasal dari luar Spanyol. Sejak tahun 1979 sampai 2009, telah terdapat 440 pemain muda yang bergabung dan tinggal di akademi Barca, setengahnya kelahiran Catalan dan sisanya datang dari kota-kota lain di Spanyol dan seluruh dunia. Dari 440 pemain muda itu ada 40 pemain yang berhasil masuk ke tim utama berdasarkan data mereka pada 2010.

Sekarang, sejak 2011 Barcelona memutuskan untuk memindahkan semua fasilitas pelatihannya ke Ciutat Esportiva Joan Gamper dan mempunyai tempat tinggal baru untuk para 85 pemain muda mereka di The New Masia, mengganti La Masia yang telah ditinggalkan. Meski demikian, La Masia masih menjadi identitas utama dari Barcelona sampai kapanpun.

Jadi masikah kalian menilai Barcelona itu berhasil dengan proses yang cepat? Pikirkan baik-baik…